Jumat, 08 Januari 2016

kitab suci agama Hindu

KITAB SUCI AGAMA HINDU




Dari pustaka suci agama Hindu sama besarnya dengan semua tradisi agama-agama besar lainnya., tapi perbedaan nya adalah bahwa dibandingkan dengan kitab suci agama-agama lain, pustaka suci agama Hindu adalah yang terbesar jumlahnya. Hubungannya dengan pustaka-pustaka suci dari badan-badan lain dalam agama Hindu sendiri juga cenderung lebih luwes.

  •       Sruti
Kategori utama ddan pertama kitab suci agama Hindu, digambarkan oleh kata Sruti atau itu yang di dengar, dapat merujuk kepada pendengaran atau penampakan yang suci atau pada fakta bahwa teks yang  diwahyukan ini tlah dan idelnya ditrasmisisikan secara lisan, sekalipunia jug telah dibatasi menjadi teks tertulis pada zaman moderen ini. Secara alternative ia disebut Veda-Veda, bentuk jamak dari empat bagian Veda yaitu Rg.veda, Yajur veda, Sama Veda dan Arthavaveda; bentuk tunggal dari veda merujuk mereka pada satu kumpulan. Śruti disebut Weda, atau Āmnāya. Sruti merupakan sumber yang dpat dipercaya dari Hinduisme. Sruti secara harfiah artinya sesuatu yang didengar. Sruti merupakan wahyu.

  •  Mantra
a.       Rg.Veda adalah kitab suci Hindu tertua dan terbesar bila di bandingkan dengan kitab suci Veda yang lain. Para rsi yang menerima wahyu Rg.Veda adalah rsi agung yang memiliki kemampuan untuk menangkap atau melihat yang gaib. Mereka adalah pendiri peradaban dan kebudayaan Hindu. Mantra-mantra yang diterima merupakan syair-syair keagamaan yang sangat indah. Kepahlawanan dan berpikir positif merupakan kunci pembuka untuk memahami ajaran Veda. Sukta-sukta Rg.Veda juga menekankan berbagai cara yang sangat kaya untuk meningkatkan ras bhakti kepada Tuhan Yang maha Esa.
b.      Yajur Veda adalah kitab suci yang pada umumnya berbentuk prosa dan dilapalkan oleh Adhvaryu, pandita yang akhli atau membidangi Yajurveda yang akan menjelaskan sebuah upacara korban dengan mengambil manta-mantra Rg.Veda. Kata Yajur berasal dari kata “yaj” yang artinya pemujaan atau pengorbanan. Kata yajna berasal dari kata ini. Seperti halnya Rg(Rk) yang berati himne atau lagu pujian, demikian pula kata yajus berkaitan dengan tata makna dari kata yajus dan tujuan tertinggi dari Yajurveda adalah mengambil mantra-mantra RgVeda yang kemudian digunakan sebagai mantara pujaan praktisdalam wujud yajna atau pemujaan . Yajurveda mengambil banyak mantra dari RgVeda. Dapat pula ditambahkan bahwa Yajurveda menekankan detail prosedur yajna yang berbeda-beda.
c.       Sama veda adalah bentuk seni music tertua India dan merupakan sumber dari seni music tradisional dngan segala bentuk seni music yang dipraktekan semuanya bersumber pada seni music ini sebagai alat bantu untuk mempraktekkan meditasi dan untuk memperoleh keselamatan. Berkenan dengan kata Samaveda perlu diingat selalu kata ini berasal dari kata Saman yang artinya melodi (irama) dan sama veda tidak lain adalah himpunan mantra-mantra yang diberi tanda nada untuk berbagai irama(melodi). Sama Veda yang juga disebut juga nyanyian Veda suci menduduki posisi ke3 di dalam kitab-kitab veda, tetapi dalam praktek sangat menentukan sesudah kitab Rgveda.
d.      Arthavaveda berati seorang Purohita yakni nama seorang Rsi. Mantra-mantra Arthavaveda diperoleh oleh maharsi bernama Atharvam. Kitab Vedda ini terdiri dari berbagai macam mantram menujukan untuk mengusir kejahatan dan kehidupan yang sulit dan juga musuh-musuh. Mantra-mantra arthava veda berbentuk prosa disamping juga berbentuk puisi. Didalam Arthavaveda kita menemukan mantra-mantra dewata yang tidak dijumpai dalam kitab suci Veda yang lain. Mantra-mantra Arthava veda terdiri dari mantra untuk memperoleh pengampunan dosa dan karunia dari dewa-dewa, mohon ampun dan upacara untuk melenyapkan musuh-musuh, mantra pemujaan untuk memohon kemakmuuran.

  •             Brahmana
Kata brahmana dalam bentuk netral pada dasarnya berati penjelasan atau ekspresi dari seorang pendeta yang cerdas, ajaran tentang ilmu upacara.kata brahmana dalam pengertian ini menunjukan koleksi dari pernyataan-pernyataan dan diskusi-diskusitentang ilmu upacara. Walaupun demikian kitab brahmana terdiri dari mitologi tentang kejadian alam(kosmologi) legenda-legenda kuno dan dongeng-dongeng namun temannya utuh tentang upacara yang merupakan titik awal dari etiap diskusi dan pemecahannya. Kitab Aitareya dan Kausitaki merupakan kitab Brahmana dari Rg.Veda dan Aitareya lebih tua umurnya dan isinya lebih tebal, tetapi Kausitaki lebih kaya dai isinya lebih bervariasi. Aitareya merupakan karya gabungan lima bagian yang pertama lebih tua dibandngkan dengan tiga bagian terakhir. Demikian pula hanya 2 kitb brahmana dari samaveda yang masih tersisa yakni Jaiminiya dan Tandyamaha. 


  •         Upanisad
Upanisad merupakan kumpulan dari kitab-kitab aranyaka oleh karena itu pula kitab-kitab Upanisad disebut Vedanta. Upanisad berati duduk dekat kaki guru dan menerima ajaran yang bersifat rahasia dari guru.  Terdapat sejumblah besar daftar nama-nama kitab upanisad, secara formal disebutkan 108 buah, namun kenyataannya lebih dari itu. Dari jumblah yang banyak itu hanya sebelas duabeas yang sangat penting. Dari 12 Upnisad yang sangat penting itu adalah Isa, Kena, Katha, Prasna, Mundaka, Mandukya, Aitareya, Taittirya, Chandogya, Bhradaranyaka, Kaukisitaki dan Svetasvatara Upanisad.

  •       Smrti
Kalau veda adalah wahyu, smrti adalah tradisi. Kata ini secara literal berati “itu yang diingat”, walaupun sebenarnya vdalah yang dihafal. Veda-veda menurut pandangan orthodox yang sangat dominan, tidak memiliki pengarang manusia (tidak ditulis oleh manusia), sebaliknya smrti atau kerja dan tradisi adalah suatu karya yang pengarangnya dapat di kenal. Karya-karya ini tumbuh dri ungkapan untuk membantu ingatan yang disebut sutra atau benang sesuatu yang harus diingat untuk mereka yang mempunyai kemauan untuk mempelajarinya. Benang-benang ini kemudian terjalin mnjadi smrti. Kata ini mempunyai dua arti yang terbatas dan diperluas.

  •  Vedanga
            Dalam memahami Veda dan kitab-kitab yang terkait dengan Veda kita mengenal istilah veda dan susastra veda. Veda adalah kitab-kitab sruti (wahyu) sedang susastra veda adalah kitab-kitab Vedangga dan Upaveda kitab-kitab Vedangga berisi petunjuk-petunjuk tertentu untuk mendalami weda. Dalam pengertian nya yang lebih luas vedangga meliputi pula: kitab-kitab Dharmasastra, Ithihasa, Purana, Agama/Tantra dan Darsana. Kitab-kitab yang termasuk Vedangga adalah: Siksa, Vyakarana, Nirukta, Chanda, Jyotisa, dan Kalpa.

  •   Upaveda
Masing-masing kitab Catur Veda memiliki kitab upaveda. Kitab upaveda dari Rg.Veda adalah Ayurveda, kitab upaveda dari Yajurveda adalah Dhanurveda, kitab Upaveda dari Sama veda, adalah Ghandarvaveda dan Upaveda dari Arthavaveda adalah Arthaveda. Seperti halnya susastra Veda yang lain, kitab-kitab upaveda tidak dapat dipisahkan dengan kitab-kitab veda. Susastra Ayurveda jumblah slokanya sebanyak 100.000 dan Dhanurveda tidak kita dijumpai lagi.  Hal itu kemungkinan bahwa kitab-kitab upaveda dikaitkan langsung dengan Ayurveda atau ilmunya masing-masing.

Sumber: Titib, I Made. 2011. Bahan Ajar Veda. Surabaya: Paramita


Sumber: Madrasuta,Ngakan Made dkk, 2000. Agama Hindu. Surabaya:Paramita





Kamis, 07 Januari 2016

Kristen Katolik dan Protestan

PERBEDAAN  KRISTEN KATOLIK DAN PROTESTAN


 Perbedaan Kristen Katolik dan Protestan sebagai berikut : 
1.                  Kepausan
Perbedaan mendasar Katolik dan Protestan yang pertama adalah bahwa umat Katolik memiliki Paus, pemimpin tertinggi yang bertahta di Vatikan, Roma. Yang dianggap sebagai Paus pertama adalah St. Petrus, salah satu dari 12 murid Yesus, walaupun semasa hidupnya Petrus tak pernah mendirikan agama, apalagi bernama agama katolik. Sebenarnya Paus pertama agama Katolik bukanlah Petrus. Ajaran Petrus adalah monotheisme sama dengan ajaran Yesus, sedangkan agama Katolik adalah agama polytheisme warisan dari lembaga keagamaan Romawi yang sudah eksis. Sementara Kristen Protestan tidak mengakui atau memiliki pemimpin tertinggi. Hal ini sekaligus memicu perpecahan dan kemunculan Kristen Protestan pada Abad Pertengahan. Saat Paus Leo X ingin membangun gereja termegah sedunia, Basilika St. Petrus di Vatikan, ia mencari dana pembangunan gereja dengan menjual surat Pengakuan Dosa, dengan menjual surat pengakuan dosa. Penjualan Surat pengakuan Dosa ini diprotes oleh Pendeta Martin Luther yang memutuskan memisahkan diri. Mereka yang menjadi pengikut Martin Luther disebut Protestan.

2.                  Kitab Suci
Ada perbedaan alkitab suci kristen katolik dan kristen protestan. Kitab suci umat Kristen disebut Bible. Namun Bible menurut Katolik lebih tebal, karena ada tambahan kitab yang dinamakan Deutero-Kanonika. Kitab-kitab tersebut tidak diakui kebenarannya oleh umat kristen Protestan atas doktrin Purgatory, wilayah di antara surga dan neraka, atau disebut Api Penyucian.

3.                  Denominasi Gereja
Dalam tradisi Katolik, orang awam dilarang menafsirkan kitab suci selain Magisterium, yaitu para ahli agama yang berpusat di Roma. Umat Katolik di seluruh dunia tinggal mengikuti penafsiran Magisterium. Sedangkan ajaran Protestan membolehkannya. Dua kebijakan berbeda ini berdampak besar. Umat Katolik di seluruh dunia timggal imani saja karena memiliki satu pendapat yang sama tentang kitab suci.  Sedangkan agama protestan membolehkan penafsiran di luar gereja,sehingga terbagi-bagi menjadi beberapa aliran dan denominasi. Sebut saja GPIB, Pantekosta, Gereja Kristen Jawa (GKJ), Gereja Batak (HKBP), Adven, dst. Jika umat Katolik bisa datang ke gereja manapun di seluruh dunia, maka berbeda dengan umat Protestan yang tidak mau beribadah jika bukan ke gereja yang sama sekte atau denominasinya pendeta kristen protestan.

4.                  Hirarki Gereja
Dalam agama Katolik, terdapat hirarki pemuka agama. Dari room atau pastur, uskup, kardinal, dan paus. Ada hirarki dalam gereja katolik, yaitu kapel (gereja kecil), gereja paroki (tempat pastur), katedral (tempat uskup/kardinal), dan basilika (tempat paus). Sedangkan protestan tak memiliki hirarki pemuka agama.

5.                  Orang Yang Dianggap Kudus (Saint)
Nama-nama orang yang dianggap Kudus biasanya digunakan sebagai nama gereja Katolik (mis: Gereja Santa Maria dan Gereja Santo Petrus).  Untuk nama baptis, katolik biasanya diakhiri -us: Petrus, Paulus, Fransiskus.  Sedangkan umat Protestan nama baptis menggunakan nama-nama nabi: Abraham, Samuel, Daniel.

6.                  Sakramen
Sakramen ialah bentuk upacara suci yang wajib dilakukan umat Kristiani sepanjang hidupnya. Gereja Katolik mengakui 7 sakramen, yaitu Baptis (masuk Kristen), Krisma (diberikan saat menginjak remaja), Ekaristi (yang biasa dilakukan di gereja setiap hari Minggu), Imamat (pentahbisan menjadi pastor), pernikahan, pengakuan dosa, dan pengurapan (diberikan saat sakit parah dan hampir meninggal). Untuk gereja Protestan, hanya mengakui 2 sakramen, yaitu Baptis dan Ekaristi. Sakramen Ekaristi dalam ajaran Protestan tidak dilakukan tiap hari Minggu, cukup pada perayaan hari-hari besar saja.

7.                  Kerahiban / Biarawan
Dalam ajaran agama Katolik, hanya laki-laki yang boleh menjadi pastur. Sedangkan dalam Protestan, baik laki-laki maupun perempuan, diberikan hak yang sama menjadi pendeta, meskipun kita lebih sering melihat pendeta laki-laki. Dalam Katolik, wanita yang ingin beribadah penuh seumur hidupnya bagi Tuhan dapat menjadi suster/biarawati. Syarat menjadi suster sama dengan syarat menjadi pastur, yaitu tidak boleh menikah. Seorang suster harus menutup auratnya dan memakai kerudung. Tak ada kerahiban dalam ajaran agama kristen protestan pemimpin katolik berdoa ke berhala maria umat katolik berdoa ke santo / santa 

8.                  Pengultusan Bu Maria dan para Santo/santa (Orang yang dianggap Kudus)
Umat Katolik sangat mengkultuskan Bu Maria, ibunya Yesus dan para Santo. Kedudukan mereka sangat dikultuskan. Dalam ajaran Katolik ada rosario, semacam tasbih dengan liontin salib, dan berziarah ke Goa Maria. Sementara umat Protestan menolak pengultusan terhadap Maria dan Santo. Gereja Katolik dihiasi patung-patung Yesus, Bunda Maria, santo/santa, hingga patung malaikat, sebagai pelestarian agama pagan Romawi. (harap diingat, pendiri agama katolik bukanlah Petrus murid yesus, nama Petrus hanya dicatut. Lembaga keagamaan Romawi pagan sudah ada dan inilah yang jadi cikal bakal agama katolik). Sedangkan umat Protestan mengharamkan penggunaan patung karena dianggap berhala. Hanya ada patung berbentuk salib biasa, tanpa tubuh Yesus.

9.                  Perkawinan
Pemuka agama Katolik dari pastur hingga paus tidak boleh menikah, harus membujang seumur hidup (selibat) agar umat katolik tahu mereka konsentrasi penuh terhadap ajaran. Tapi ini hanya teori, buktinya tak ada pastur hingga Paus yang dikebiri. Dalam agama Protestan, pendeta diperbolehkan menikah. Dalam agama Katolik, umat hanya boleh terjadi sekali seumur hidup, kecuali jika ditinggal mati pasangannya. Sementara dalam ajaran Protestan dibolehkan bercerai.

10.              Peribadatan
Peribadatan Katolik disebut misa, sementara agama Protestan disebut kebaktian. Kedua agama ini beda dalam hal isi maupun tata cara pelaksanaannya, kendati sama-sama dilaksanakan pada hari Minggu. Umat Katolik berdoa membuat tanda salib dengan telunjuk kanan menyentuh dahi, dada, bahu kiri, bahu kanan, secara urut. Sementara umat Protestan hanya berdoa biasa. Itulah Perbedaan Mendasar Kristen Katolik dan Protestan. Kedua agama tersebut di atas adalah buatan manusia. bandingkanlah dengan ajaran agama yang diajarkan Yesus. 180 derajat perbedaannya.



Sang Hyang Widdhi

APA ITU SANG HYANG WIDDHI???

         Sang hyang widhi wasa (tuhan yang maha esa).Sebutan Tuhan dalam Agama Hindu disebut : Sang Hyang Widhi Wasa/Brahman.            Widdhi berarti : yang menakdirkan.            Wasa berarti   : Ia yang maha kuasa.Pengetahuan tentang Ke Tuhanan ini disebut dengan : “Brahmana Widya dan Filsafahnya disebut dengan “Widhi Tattwa”.Sang Hyang Widhi ialah : Ia yang maha kekal dan abadi, tiada berawal dan tiada berakhir (Anadi dan Ananta), Maha sempurna tiada tercipta akan tetapi menciptakan dirinya sendiri (Swayambhu).

        Kata Sang Hyang Widdhi diciptakan pada tahun 1965? Pasti tidak! Kata Ida Sanghyang Widdhi Wasa sudah digunakan dalam Piagam Tjampuhan yang dibuat pada bulan Nopember 1961. Dalam pembukaan Piagam ini disebutkan, versi bahasa Indonesia: : Atas karunia Ida Sanghyang Widdhi Wasa kepada Pesamuhan Agung ini. Versi bahasa Bali : Saking paswetjan Ida Sanghyang Widdhi Wasa ring Pesamuhan Agung piniki. Lalu dalam butir IV dari Dharma Agama disebutkan : Di dalam Tri-Kayangan harus diadakan Padmasana atau Sanggar Agung sebagai Sthana Ida Sanghyang Widddi Wasa Versi bhs Bali : Sajeroning Tri Kayangan patut kawentenang Padmasana wiadin Sanggar Agung maka Sthana IDA SANGHYANG WIDDHI WASA (aslinya huruf besar). 

sumber : Wijaya,I Gede.1981.Pengantar Agama Hindu.Setia kawan:DENPASAR

tri sandhya

APA ITU TRI SANDHYA?
           Kitab suci Weda dan sastra mengajarkan kita hendaknya menghubungkan diri, memuja Tuhan setidak-tidaknya tiga kali sehari. Pemujaan ini disebut dengan Tri Sandhya. Bagi umat Hindu Indonesia tidak hanya di ambil dari Gayatri Mantram melainkan disusun berdasarkan sumber Weda, Upanisad, dan Weda Parikrama sehingga menjadi enam mantra. Mantram pertama Saeitri Mantram atau lebih poluler dengan istilah Gaya Trimantram.mantram pertama yang terpenting dalam Weda.
Tri Sandhya merupakan sembahyang yang wajib dilakukan oleh setiap umat Hindu tiga kali dalam sehari. Sembahyang rutin ini diamanatkan dalam kitab suci Veda dan sudah dilaksanakan sejak ribuan tahun yang lalu. Akan tetapi dikalangan sebagian umat, Tri Sandhya belum menjadi pembiasaan atau kebutuhan yang mutlak dan harus dilaksanakan sebagai identitas pemeluk Hindu, hal ini nampak dalam kehidupan umat baik dalam komunitas yang kecil yaitu dalam keluarga maupun yang besar yaitu dalam masyarakat, terutama umat yang berada di pedesan. Sesungguhnya masyarakat Hindu dalam generasi atau di era sekarang telah mengenal baik Tri Sandhya ini, karena sejak dini, anak-anak sudah diperkenalkan dengan yang namanya Puja Tri Sandhya, bahkan dalam ranah formal pun praktek atau materi puja Tri Sandhya ini telah diberikan oleh tenaga pendidik, yang bertujuan agar para peserta didik mengenal ajaran dan mempraktekkan agamanya sejak dini, guna terbangunnya militansi agama yang mengarah pada peningkatan sraddha dan bhaktinya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam bukunya IBG.Agastia yang berjudul I Gusti Bagus Sugriwa Penyusun Puja Tri Sandhya di katakan bahwa sekitar tahun 1956, Sumber dari  mantram  Puja Trisandhya tidak hanya bersumber dari satu sumber tapi dari berbagai sumber seperti Rg.Veda dan beberapa mantra yang terdapat dalam Lontar Gharga.  Seperti dalam kegiatan “ Nyurya Sewana” ktika memohon aksama untuk memuja tirtha :



Sementara itu sebelum pendeta melaksanakan Bhasma, di uncarkanlah mantram berikut:

Selanjutnya Pendeta membuat tirtha panglukatan. Mantra penglukatan yang tertuang di dalam Gharga terdiri atas: Pretiwi Stawa, dan Siwa Sthawa. Siwa Sthawa terdiri atas 10 bait. Bait kedua dari Siwa Sthawa adalah sebagai berikut:


Adapun puja Narayana yang terdapat di dalam Gharga adalah cukup panjang, namun yang kemudian di petik sebagai bagian dari Puja Tri Sandhya adalah sebagi berikut:


Demikianlah Puja Mantra yang terdapat di dalam Lontar Gharga yang kemudian disusun menjadi Puja Trisandhya oleh I Gusti Bagus Sugriwa denagn membuat susunan sebagai berikut:





Dalam sejumblah tulisannya I Gusti Bagus Sugriwa selalu menempatkan susunan Puja Pangaksama dalam Puja Trisandhya sesuai dengan urutan di atas (4,5,6) namun dalam sejumblah penerbit kemudian, seperti Puja Trisandhya yang di terbitkan oleh Narendra Dev Pandit (Bhuvana Saraswati Publications), dan Parisadha Hindu Dharma Indonesia Pusat (1990) memakai urutan no 4 dan 5 bertukar tempat.
            Dengan demikian jelas bagi kita bahwa I gusti Bagus Sugriwa sangat berpegang teguh pada Lontar Gharga yang ada di bali yang di pakai pegangan pokok oleh pendeta di Bali.
1.      . Om om om
bhur bhuvah svah
tat savitur varenyam
bhargo devasya dhimahi
dhiyo yo nah pracodayat        
(Rg. Veda III. 62.10)
terjemahan:
Om Sang Hyang Widhi, kami menyembah kecemerlangan dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhi yang menguasai bumi, langit dan sorga, semoga Sang Hyang Widhi menganugrahkan kecerdasan dan semangat pada pikiran kami.
2.      Om Narayana evedam sarvam
yad bhutan yac ca bhavyam,
niskalanko niranjano nirvikalpo
nirakhyatah suddo devo eko
narayanah na dvitiyo asti kascit 
(Puja narayana dalam Lontar Gharga(Catur Veda Sirah))
Terjemahan:
Om Sang Hyang Widhi, semua yang ada berasal dari Sang Hyang Widhi baik yang telah ada maupun yang akan ada, Sang Hyang Widhi bersifat gaib tidak ternoda tidak terikat oleh perubahan, tidak dapat diungkapkan, suci , Sang Hyang Widhi Maha Esa, tidak ada yang kedua.
3.       Om tvam sivas tvam mahadevah
isvarah paramesvarah,
brahma visnus ca rudras ca
purusah parikirtitah.
(Bait Kedua dari Siva Stava)
terjemahan
Om Sang Hyang Widhi, Engkau disebut Siwa yang menganugrahkan kerahayuan, Mahadewa (dewata tertinggi), Iswara (mahakuasa). Parameswara (sebagai maha raja diraja), Brahma (pencipta alam semesta dan segala isinya), Visnu (pemelihara alam semesta beserta isinya), Rudra (yang sangat menakutkan) dan sebagai Purusa (kesadaran agung).
4.      Om papo ham papakarmaham
papatma papasambhavah
trahi mam pundarikaksah
sabahya bhyantarah sucih.
                                                (Siva Puja)
terjemahan:
Om Sang Hyang Widhi, hamba ini papa, perbuatan hambapun papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Sang Hyang Widhi, Sang Hyang Widhi yang bermata indah bagaikan bunga teratai, sucikan jiwa dan raga hamba.
5.      Om ksamasva mam mahadevah
sarvaprani hitankarah
mam moca sarva papebyah
palaayasva sadasiva.
                                    (Siva Puja)
terjemahan:
Om Sang Hyang Widhi, ampunilah hamba, Sang Hyang Widhi yang maha agung anugrahkan kesejahteraan kepada semua makhluk. Bebaskanlah hamba dari segala dosa lindungilah hamba Om Sang hyang Widhi.
6.      Om ksantavyah kayiko dosah
ksantavyo vaciko mama
ksantavyo manaso dosah
tat pramadat ksamasva mam.
                                                (Siva Puja)
Terjemahan:
Om Sang Hyang Widhi, ampunilah dosa yang dilakukan oleh badan hamba, ampunilah dosa yang keluar melalui kata kata hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba.
Om Santih Santih Santih Om.
Terjemahan :
Om Sang Hyang Widhi anugrahkanlah kedamaian, kedamaian, kedamaian selalu.

Waktu yang tepat dalam melaksanakan Puja Trisandhya adalah tiga kali sehari sebab seperti  yang di ketahui mantram Puja Trisandya terdiri dari 6 bait yang di salah satu baitnya yaitu bait nya yang pertama merupakan manrtam yang termsuk ke dalam Gayatri Mantram. Pada mantram Gayatri yang menjadi istadevata(devata pujaan tertinggi manifestasinya) adalah Savitri, manifestasi Tuhan Yang Maha Esa sebagai pemberi inspirasi, dorongan untuk berbuat baik. Dewi Savitri juga di sebut sebagai Bharati atau Saraswati. Gayatri atau Savitri adalah nama lain dari Surya, terutama dikaitkan dengan fajar atau matahari pagi sebelum muncul di horizon. Saat fajar disebut Brahmamuhurta, saat yang sangat baik melakukan pemujaan kedpada-Nya. Mengingat kitab suci Veda(Rgveda V.54.6) mengamanatkan sembahyang  tiga kali sehari, maka menurut Taittiriya Aranyaka sembahyang memuja dewi Savitri hendaknya dilakukan pada saat fajar, matahari di atas kepala dan menjelang malam.

Sumber: (Titib,1997:38).


OM SWASTYASTU







OM SWASTYASTU
*****Ya Tuhan, semoga Engkau selalu memberikan perlindungan *****
    Om Swastiastu adalah salam yang kita ucapkan bila bertemu dengan orang lain, sapaan sekalugus doa untuk lawan bicara agar orang tersebut selalu diberkahi oleh TuhanYang Maha Esa.Salam umat Hindu ini sekarang telah menjadi salam resmi dalam pertemuan pertemuan resmi. Selanjutnya yang perlu kita pahami bersama adalah apa makna yang berada di balik ucapan Om Swastiastu tersebut. OM adalah aksara suci untuk Sang Hyang Widhi. Istilah Om ini merupakan istilah sakral sebagai sebutan atau seruan pada Tuhan Yang Mahaesa. Om adalah seruan yang tertua kepada Tuhan dalam Hindu. Setelah zaman Puranalah Tuhan Yang Mahaesa itu diseru dengan ribuan nama. Kata Om sebagai seruan suci kepada Tuhan yang memiliki tiga fungsi kemahakuasaan Tuhan. Tiga fungsi itu adalah, mencipta, memelihara dan mengakhiri segala ciptaan-Nya di alam ini. Mengucapkan Om itu artinya seruan untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita kata Om ini dinyatakan sebagai simbol untuk memanjatkan doa pada Tuhan. Karena itu mengucapkan Om dengan sepenuh hati berarti kita memanjatkan doa pada Tuhan yang artinya ya Tuhan. Kata Swastiastu terdiri dari kata-kata Sansekerta: SU + ASTI + ASTU, Su artinya baik, Asti artinya adalah, Su + Asti = Swasti Setelah mengucapkan Om dilanjutkan dengan kata swasti. Dalam bahasa Sansekerta kata swasti artinya selamat atau bahagia, sejahtera. Dari kata inilah muncul istilah swastika, simbol agama Hindu yang universal. Kata swastika itu bermakna sebagai keadaan yang bahagia atau keselamatan yang langgeng sebagai tujuan beragama Hindu. Lambang swastika itu sebagai visualisasi dari dinamika kehidupan alam semesta yang memberikan kebahagiaan yang langgeng. Menurut ajaran Hindu alam semesta ini berproses dalam tiga tahap. Pertama, alam ini dalam keadaan tercipta yang disebut Srsti. Kedua, dalam keadaan stabil menjadi tempat dan sumber kehidupan yang membahagiakan. Keadaan alam yang dinamikanya stabil memberikan kebahagiaan itulah yang disebut swastika. Dalam istilah swastika itu sudah tersirat suatu konsep bahwa dinamika alam yang stabil itulah sebagai dinamika yang dapat memberikan kehidupan yang bahagia dan langgeng. Dinamika alam yang stabil adalah dinamika yang sesuai dengan hak asasinya masing-masing. Ketiga, adalah alam ini akan kembali pada Sang Pencipta. Keadaan itulah yang disebut alam ini akan pralaya atau dalam istilah lain disebut kiamat. Astu artinya mudah-mudahan atau semoga Kata astu sebagai penutup ucapan Swastiastu itu berarti semoga. Jadi arti keseluruhan.
OM SWASTIASTU adalah “Semoga ada dalam keadaan baik atas karunia Hyang Widhi”.

sumber:  -https://www.facebook.com/notes/hindu-bali/salam-om-swastiastu-bukan-osa salam-sekaligus-doa/451284118227573
-http://cakepane.blogspot.com/2010/03/om-swastiastu-salam-sekaligus-doa.html
- 
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/11/23/o4.htm













PERBEDAAN KLENTENG DAN VIHARA
Namo Buddhaya.
KLENTENG
Klenteng pada dasarnya adalah tempat ibadah kaum Tionghoa Perantauan. Di dalamnya terdapat berbagai macam rupang, baik dari Aliran Buddha Mahayana Rupang Dewi Guan Yin / Kuan Im / Avalokitesvara, rupang dari aliran Taois (Rupang Lao Zi / Lao Tzu / Tai Shang Lao Jun) dan Aliran Konfusianis (Rupang Konfusius itu sendiri). Selain itu, ada pula rupang tokoh-tokoh yang dianggap berjasa dan layak mendapatkan penghormatan seperti Hua Tuo (Tabib legendaris yang hidup di masa 3 Kerajaan), Bao Cheng (Hakim Bao), dan lainnya. Di negara asalnya (RRT), sulit ditemui tempat peribadatan yang mewadahi 3 kepercayaan tersebut. Umat Buddha bersembahyang ke Kuil-kuil Buddha, Umat Taois beribadah ke Kuil Taois dan Umat Konfusius melakukan ritual penting di Kuil Konfusius atau makam leluhur. Walaupun demikian, tidak ada pengkotak-kotakan kepercayaan, seperti Umat Buddha tidak boleh ke kuil Taois ataupun sebaliknya. 3 kepercayaan ini sudah membaur menjadi satu.
Hal ini karena proses pembauran yang sangat lama. Perayaan Kaum Tionghua, mulai dari Perayaan Tahun Baru Imlek sampai dengan Perayaan Winter Soltice (Dong Zhi) adalah campuran dari ke 3 kepercayaan itu dan tidak bisa lagi dipisah-pisahkan.
Lalu mengapa di Komunitas Tionghoa Perantauan muncul tempat ibadah klenteng ini ? Sebagai kaum perantauan di negeri orang, mereka lebih cenderung mengandalkan kaumnya sendiri. Kaum Hokkian akan mengandalkan sesama kaum Hokkian ataupun Kaum Hakka akan mengandalkan sesama Kaum Hakka. Dengan demikian, Kaum Tionghoa Perantauan ini tidak mau ada pengkotak-kotakan kepercayaan di antara mereka. Ditambah lagi, saat berada negeri asing, sebaiknya seminim mungkin menggunakan tanah orang. Oleh karenanya, ditemukan solusi untuk membangun suatu tempat ibadah yang bisa mewadahi semua aliran yang ada, yang akhirnya disebut Klenteng. Dengan munculnya Klenteng ini, muncul pula sebutan Tri Dharma (3 Kebenaran yang mengacu kepada Ajaran Buddha, Taois dan Konfusianisme)
            Kesalah-kaprahan juga disebabkan oleh peraturan pelarangan segala sesuatu yang mengandung Budaya Tionghoa pada masa Order Baru. Pada masa ini, Umat Tri Dharma beserta tempat ibadah Klenteng menghadapi 'paksaan halus' untuk memeluk salah satu dari 5 agama yang ada. Sebagian besar dari mereka akhirnya mengaku sebagai Buddhist atau beragama Buddha. Klenteng pun berganti nama menjadi Vihara supaya tidak dibredel rezim masa itu. Efek peraturan ini sangat luas. Selain menyebabkan kesalah-kaprahan, Umat Tri Dharma yang terpaksa menjadi Umat Buddha (saya menyebutnya "Umat Buddha Terpaksa") menjadi "lahan garapan" oleh sales-sales agama lain.Salah kaprah juga meluas hingga beberapa praktek tradisi Tionghoa dianggap sebagai Ritual Buddhist.
Dalam buku “Mengenal Siapa Khonghucu Dan Apa Itu Agama Khonghucu” kelenteng merupakan rumah ibadah bagi umat Khonghucu yang pada umumnya disebut miao (bio, dialek Hok Kian, pen.) sebagai mana tersurat dalam Kitab Catatan Kesusilaan (Li Ji). Dalam perkembangannya di Indonesia kemudian rumah ibadah umat Khonghucu ini disebut ‘kelenteng’ karena pada saat dilaksanakan persembahyangan di miao biasanya dibunyikan suara tambur dan lonceng yang berbunyi ‘teng ... teng... teng...’ dari situlah istilah kelenteng itu muncul.
Pada masa pemerintahan Orde Baru, pemerintah membatasi berbagai upacara keagamaan yang dilaksanakan oleh umat Khonghucu termasuk di kelenteng. Maka umat Khonghucu mendirikan rumah ibadah yang disebut ‘Litang’ (ruang ibadah), dimana di dalam ruangannya terdapat altar nabi Kong Zi, podium tempat memberikan ceramah agama, dan kursi bagi para jemaah yang hadir. Selain digunakan sebagai tempat ibadah, Litang sekaligus juga sebagai tempat untuk mempelajari ajaran Khonghucu yang disampaikan melalui ceramah-ceramah agama yang disampaikan oleh para rohaniawan.
Umat Khonghucu melakukan ibadah secara bersama-sama di Litang seperti halnya umat agama lain, mereka pun mendengarkan ceramah dan mempelajari ajaran Khonghucu melalui kitab-kitab sucinya. Sedangkan di kelenteng biasanya umat hanya bersembahyang dan berdoa secara pribadi masing-masing saja dengan cara membakar dupa atau gaharu (hio swa) dan memberikan hormat kepada roh suci (Shen Ming) tanpa ada bimbingan atau ceramah agama yang disampaikan oleh rohaniawan.
Kemudian, Konco sama halnya dengan kelenteng,Cuma berbeda dari bahasanya saja. Bio atau Mio adalah bahasa Cina yang di Indonesia disebut dengan Kelenteng. Sedangkan Konco merupakan bahasa dari daerah Hok Kian.


 
Gambar Klenteng

VIHARA
            Vihara adalah tempat peribadatan Umat Buddha. Idealnya Vihara adalah tempat tinggal para Bhikkhu pada suatu komunitas. Jangan pula dirancukan dengan Biara Buddha, karena biara adalah untuk para Bhikkhu yang memutuskan untuk menjauhi kehidupan duniawi / menyendiri dan biasanya Biara terletak jauh dari keramaian. Selain itu ada pula vihara skala kecil yang disebut sebagai Cetiya.
Jika anda sempat masuk ke vihara, tengoklah ke arah altar. Jika hanya ada 1 rupang Buddha, maka itu adalah Vihara Aliran Threavada. Bisa dipastikan rupang di altar tersebut adalah Rupang Buddha Gautama. Jika anda melihat rupang di altar ada 3, maka kemungkinan besar viharanya adalah Aliran Mahayana. Jika di altar ada Rupang Buddha yang berada di tengah, maka itu adalah Rupang Buddha Amitabha / Amitayus. Walaupun berbeda aliran, saya sempat menemukan Ruang Kebaktian suatu Vihara yang bisa digunakan oleh ke-2 aliran secara bergantian. Selain itu, peribadatan yang dilakukan juga berbeda. Peribadatan di Klenteng kebanyakan adalah untuk meminta sesuatu dan bersifat pribadi,sedangkan di Vihara, peribadatan bersifat kebaktian dan bisa diisi ceramah oleh bhikkhu ataupun dhammadutta.
Semoga artikel ini bermanfaat untuk menjelaskan kesalah-kaprahan yang sudah terlanjur terjadi.

 

Gambar Vihara
Jadi, jika disimpulkan perbedaan antara Vihara, Konco, dan Kelenteng adalah bahwa vihara merupakan tempat ibadah umat Budha sedangkan Konco dan Kelenteng adalah tempat ibadah bagi umat Khonghucu.
Namo Buddhaya.